Senin, 18 Agustus 2014

ida nur laela: SELINGKUHNYA PARA HP

ida nur laela: SELINGKUHNYA PARA HP: Kemarin pagi saya berkicau tentang SMS, BBM atau FB. 24 jam kemudian  saya sadari bahwa ada sekitar 120 orang yang minta ijin share kic...

Selasa, 12 Agustus 2014

Tak kutemukan sepertimu....

Cantik, Smart dan Bahagia

Percaya diri adalah hal yang harus Anda lakukan jika ingin cantik, pintar, sekaligus bahagia. Proporsi wajah, memegang peranan yang sangat penting meski mayoritas orang memang tak memiliki wajah yang sangat simetris. Begitu juga pada penampilan, penting untuk menjaga proporsi, mulai dari aksesori dan busana yang pas dan tidak salah kostum. Kunci percaya diri pula adalah memilih atau mengembangkan gaya sendiri sesuai kepribadian, usia, pendidikan, serta status perannya. " Terus belajar dan mengupdate diri, memiliki visi kehidupan pribadi sehingga tahu arah perkembangan sebagai individu."

Bila ada perempuan yang merasa tak cantik karena apa yang dimilikinya tak termasuk kategori ideal. Tak harus jadi masalah. Seharusnya, ia bisa berdamai, dengan kenyataan yang ada agar mampu membangun rasa percaya diri. Rasa PEDE ini, sumber tumbuhnya perasaan cantik.

Kepercayaan diri dapat diperoleh dengan keyakinan kalau Anda mempunyai potensi luarbiasa yang  hampir tidak terbatas. " Sayangnya, banyak yang tidak mau, tidak tahu, dantidak berani mencari tahu bagaiana melakukannya.

Menumbuhkan percaya diri harus dimulai dari mengenali dan menggali potensi diri terlebih dahulu. Saat potensi sudah ditemukan, selanjutnya tinggal gali dan kembangkan apa yang anda miliki. Begitu Anda bisa memahami diri dengan lebih baik, maka anda akan bisa respek terhadap diri sendiri.

Kecantikan juga bisa ditunjukkan melalui keramahan dan keterbukaan terhadap orang lain. Menunjuknan sikap dan perilaku yang dilandasi citra diri yang terbangun oleh harmoni antara mind and body yang positif. Anda pun akan merasakan kebahagiaan.

Bahagia adalah kondisi sehat, percaya diri, nyaman dan aman. Wajah yang tampak cantik, pembawaan yang menyenangkan dan sikap yang positif adalah hasil dari perasaan bahagia. Perasaan sedih, kecewa atau marah yang kronis akan membuat muka turun sehingga tampak lebiih tua, ketus, dan tertutup.

Nova no. 1380 / XXVII 4 - 10 Agustus 2014 hal. 22


Senin, 11 Agustus 2014

Ya, Saya Bahagia ( Bagaimana membuat diri merasa Bahagia )

Rumput Tatangga memang terlihat  lebih hijau. Namun bila Anda sudah bahagia dengan hidup  yang dijalani, tentu perasaan itu tak perlu ada lagi.

Beberapa psikolog yakin bahwa kebahagiaan sebenarnya bukan berasal dari lingkungan atau keadaan, melainkan bagaimana cara kita memandang. Dr. Dan Baker, psikolog dan penulis buku What Happy people Know, mengatakan bahwa ketidakbahagiaan yang sesekali dirasakan sebenarnya berasal dari ketakutan diri sendiri. " Mulailah mengubah sikap dengan mencari potensi di dalam diri yang bisa dibanggakan. Lakukan suatu hal besar, bukan menjadi angkuh atau berbangga diri saja, melainkan agar anda bisa lebih menghargai diri sendiri.

Senada dengan hal tersebut, David Myers, seorang profesor psikologi sosial di Hope College, mengungkap bahwa apa yang kita lakukan akan dibingkai dan dijadikan tolak ukur pribadi dalam memandang dunia. " Saat kita menggunakan ekspresi tersenyum, maka kita akan merasa orang-orang lebih baik dari kita, begitu pula sebaliknya. Jadi berbicaralah seolah-olah Anda merasa positif, menghargai diri sendiri, optimis, dan menghindari hal yang yang dapat memicu emosi," sarannya.

Mengapa anda selalu bersedih ? Anda merasa tak bisa mengontrol hidup Anda sendiri. Apakah sikap pesimis ini berasal dari pekerjaan yang tak memuaskan atau karena tak punya pendukung setia yang tak bisa mendukung harapan ? Jangan khawatir, apa yang bisa Anda lakukan sekarang adalah pahami bahwa kebahagiaan sebenarnya bisa Anda latih sendiri. Orang lain hanyalah sebagai penunjang, bukan penentu. Selami apa yang anda rasakan dan cari tahu pemicunya tiap rasa sedih datang. Selanjutnya, saat mengalami hari buruk, ingat bahwa kunci kebahagiaan adalah cara Anda memandangnya.

Perasaan khawatir dapat merusak kabahagiaan. Perasaan khawatir dan takut yang menumpuk karena rasa marah tak tersalurkan tersebut akibat beban yang Anda pikul.Bermula dari hal kecil yang mengusik pikiran, lalu menumpuk, dan lama-lama semakin menggunung, hingga meninggalkan dampak yang permanen. Anda pun melihat bahwa hidup selalu berada di luar kendali. Tak jarang pula, Anda merasa sendiri dan tak punya teman untuk berbagi.

Kebahagiaan bukanlah tentang hal yang baik yang terjadi pada anda, tapi tetapi tentang menikmati apa yang anda miliki. Sehingga, anda bisa tetapberhubungan dengan teman-teman, mengerjakan pekerjaan dengan sukarela, dan alih-alih memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Anda optimis untuk menjalankan kehidupan anda sendiri. Sehingga saat hari buruk datang, Anda merasa tahu itu pasti akan berlalu.

Sumber : Nova No. 1380/ XXVII 4 - 10 Agustus 2014 hal. 44

Indonesia Minim Perpustakaan


Jakarta, PelitaOnline - RENDAHNYA minat baca masyarakat Indonesia salah satunya dipengaruhi oleh minimnya fasilitas-fasilitas pendukung, seperti jumlah perpustakaan yang tidak sesuai dengan jumlah penduduk negeri ini.

Jumlah perpustakaan umum di Tanah Air sampai saat ini hanya 2.585 perpustakaan. Jika dihitung secara rasional dengan penduduk Indonesia, maka satu perpustakaan umum harus sanggup melayani 85 ribu penduduk.

Menurut data Badan Penelitian dan Pengembangan Perpustakaan Nasional baru-baru ini, dari 64.000 desa yang ada di Indonesia, ternyata yang mempunyai perpustakaan hanya 22%. Sedangkan Jumlah unit perpustakaan di berbagai departemen dan perusahaan baru sekitar 31%.

Rendahnya minat baca di kalangan siswa pun tidak terlepas dari persoalan perpustakaan sekolah yang tidak mencukupi dan memadai. Hal ini terlihat dari 110 ribu sekolah yang ada di Indonesia teridentifikasi hanya 18% yang mempunyai perpustakaan.

Dari 200 ribu unit Sekolah Dasar di Indonesia, hanya 20 ribu yang memiliki perpustakaan standar. Demikian pula dengan SLTP, dari 70 ribu unit SLTP, hanya 36% yang memenuhi standar. Untuk SLTA, hanya 54% yang punya perpustakaan berkualitas standar.

Sementara itu, dari 4 ribu Perguruan Tinggi di Indonesia, hanya 60% yang memenuhi standar. Sedangkan dari sekitar 1.000 instansi diperkirakan baru 80-90% yang memiliki perpustakaan dengan kualitas standar.

Badan Penelitian dan Pengembangan Perpustakaan Nasional menyebutkan bahwa dari 3.000 jumlah SD dan SLTP di Indonesia, hanya 5% yang memiliki perpustakaan.

Dari data-data di atas, lembaga pendidikan formal di Indonesia sangat sedikit sekali memfasilitasi perpustakaan sebagai sarana yang meyakinkan pentingnya ilmu pengetahuan. Perpustakaan belum dijadikan tempat atau sumber ilmu yang sangat menunjang terhadap kemajuan dan peningkatan kualitas pendidikan, sehingga perpustakaan belum diperhatikan secara serius.

Kedepan, diperlukan kesungguhan dari berbagai pihak terkait untuk lebih memberi perhatian dan langkah nyata demi kemajuan perpustakan di Indonesia. Karena potret buram perpustakaan sama dengan potret buram dunia pendidikan sekaligus potret buram bangsa ini. (Parid Ridwanuddin/http://www.pelitaonline.com)

Pesantren, Aku Titipkan Anakku

Lagi-lagi Ustadz Yusuf Mansur mengajak kami pengurus Daarul Qur'an untuk punya mimpi besar, bahkan sangat besar. Alhamdulillah mimpi membangun Pesantren Daarul Qur'an terwujud di Tangerang, Cikarang, Lampung dan Semarang serta menjamurnya Rumah-rumah Tahfidz di pelosok negeri ini yang diawali dengan pesantren yang fasilitasnya serba pinjam.

Beberapa waktu lalu, Ustadz Yusuf Mansur kembali mengajak diskusi saya bersama Ustadz Jameel dan Mas Tarmizi untuk membuat "Dream" lagi yaitu Daarul Qur'an merencanakan mendirikan 100 pesantren baru. Subhanallah. Tentu kami kaget, pesantren kita sekarang ada di 4 titik, kalau mau naik 100% maka kita buat 4 lagi. Tapi itulah membangun mimpi, Ustadz Yusuf Mansur selalu membuat mimpi setinggi langit. Energi memikirkan mimpi besar dan kecil sama saja, doanya juga sekalian, katanya. Bersama Allah; Dream, Pray and Action insya Allah akan dimudahkan.

Seiring mimpi itu, saat ini telah ada sekitar 5 lokasi baru untuk membangun pesantren Daarul Qur'an. Maka masih ada 95 titik lagi kami membutuhkan tanah wakaf/hibah masing-masing seluas sekitar 2 sd 5 ha untuk membangun pesantren baru.

Kenapa 100? Ini mimpi besar dan tentu menjadi cita-cita bersama bagaimana Daqu beserta jamaah semua berikhtiar melahirkan generasi penerus bangsa dan dunia yang saleh dan berkarakter Qur'ani serta berjiwa entrepreneur dalam membangun peradaban Islam masa depan. Itu sesuai dengan visi Pesantren Daarul Qur'an.

Membangun 100 pesantren? Gimana caranya? Daqu akan segera membuka pendaftaran indent untuk tahun ajaran 2018 di titik pesantren baru yang akan dibangun. Dana pendaftaran masuk dari calon wali santri dan dari donatur akan diperuntukkan membangunan Pesantren Daarul Qur'an.

Catatkan niat untuk menjadikan anak kita sebagai ahlul Qur'an dengan mendaftarkan diri menjadi santri indent, bahkan yang masih dalam kandunganpun boleh didaftarkan.

Kan masih lama?

Maka, sebelum anak lahirpun, Bapak/Ibu telah berniat menjadikan putra-putrinya sebagai penghafal Al-Qur'an. Dengan begitu insya Allah pahala pun akan mengalir mengiring pertumbuhan anak hingga saatnya nanti masuk pesantren.

Waktu saya berharap anak saya Muhammad Fatih biar mau masuk pesantren memang butuh energi bahkan strategi, tentu tak ketinggalan sesuatu yg sangat penting yaitu doa dan harapan kepada Allah. Hari pertama tinggal di pesantren, Fatih nggak berhenti-berhentinya nelpon; "Pa, Papa ke sini lagi, jemput Fatih, Fatih pengen pulang." Padahal, kita yang nganterin belum nyampe rumah. Tapi di hari ketiga sudah mulai berubah, kartu laundry yang disiapkan sama mamanya ternyata nggak dipakai. Di ujung telpon Fatih bilang, "Ma, Fatih nggak ngelaundry, Fatih nyuci sendiri.'' Subhanallah, kalimat itu membuat saya dan istri meneteskan air mata haru. Itulah pengalaman hidup tak terlupakan.

Ada pesan sederhana dari Bu Nyai pesantren sebelum kami pulang. "Anak dan Ibu itu seperti TV dan
antena. Kalau antenanya rusak maka TV nya akan masalah, maka tugas ibu ngedoain yang baik, jangan diomongin, jangan dikangenin biar TV nya nggak bermasalah,'' tutur beliau yang sudah puluhan tahun berpengalaman.

Di sisi lain, banyak orangtua yang menakut-nakuti anaknya masuk pesantren; "Kalau nakal nanti dipesantrenin lho." Akibat demonisasi ini, banyak generasi belia Muslim ogah masuk pesantren. Padahal pesantren adalah sebuah tempat penggemblengan mental dan spiritual, dengan segala resikonya dalam belajar dan membuka cakrawala dunia; Kesederhanaan, kreativitas, menjemen waktu, ketaatan, kesungguhan, ketangguhan, dan lain-lain nilai positif kejuangan diajarkan di pesantren.

Pesantren menyiapkan generasi masa depan yang akan mampu bertarung dalam urusan dunianya namun tidak melupakan Tuhannya. Banyak orangtua yang tidak menyiapkan anak-anak mereka mengenal Tuhannya, tidak mengenalkan masa depan sesungguhnya yaitu akherat. Meraka lebih konsen menyiapakn anak-anaknya untuk sukses dunia (kekayaan, kemasyhuran, derajat sosial). Tidak salah orangtua menyiapkan anaknya jadi jago matematika, fisika, IT, arsitek, manajemen, dll. Namun jangan sampai terlupakan anak-anak kita adalah investasi berharga dalam keluarga untuk masa depan nan abadi.

Apakah kita sudah menyiapkan anak-anak kita menjadi anak-anak soleh yang bisa mendoakan orangtuanya? Karena doa dan amal soleh anak sholeh pahalanya akan mengalir ke orangtuanya yang sudah beralamat di alam kubur. Bahkan anak menjadi penyelamat orangtua di akherat dengan syafa'at hafalan Qur'an-nya.

Maka, seharusnya kita gelisah, ketika anak-anak kita belum mengenal huruf hijaiyyah, belum bisa membaca Al Qur'an, belum bisa berdoa, belum bisa sholat, belum banyak tahu tentang agama, sejak dini.

Semoga ikhtiar menanamkan kecintaan pada pesantren di jiwa anak, dapat menjadi inspirasi bagi orangtua Indonesia yang menyadari bahwa anak adalah investasi menuju surga.

http://www.pppa.or.id/modul.php?content=artikel&idb=49&totitle=Pesantren,%20Aku%20Titipkan%20Anakku

Membiasakan Anak Membaca Sejak Kecil

http://ummi-online.com/berita-303-membiasakan-anak-membaca-sejak-kecil.html

Saat ulangan Bahasa Indonesia, kemenakan saya, Ihsan (kelas 1 SD) mendapat pertanyaan: Kalau membaca, kita sebaiknya mencari tempat yang…. (titik-titik itu harus dijawab murid). Ihsan menjawab: adem.

Saya tertawa mendengar cerita yang dikisahkan ibunda Ihsan itu. Namun, buat saya, jawaban Ihsan adalah benar sebenar-benarnya! Bagi para pencinta buku, salah satu kenikmatan dunia adalah membaca di tempat yang nyaman, di mana pun dan kapan pun itu.

Ihsan senang membaca. Dan sekecil itu ia sudah merasakan: kalau membaca harus nyaman, di tempat yang sejuk alias adem. Ihsan memang suka membaca buku di kamarnya yang sejuk.



Kiat agar anak gemar membaca

Saya teringat buku lama dari Mary Leonhardt berjudul 99 Cara Menjadikan Anak “Keranjingan” Membaca (Penerbit Kaifa, 2000). Leonhardt adalah seorang yang rajin mempromosikan pentingnya buku dikenalkan anak sedari kecil. Dalam pengamatan saya, ibunda Ihsan mempraktikkan apa yang ditulis Leonhardt ini.

Misalnya, saat belum bisa membaca, Ihsan dan adiknya diminta memilih sendiri buku yang mereka inginkan untuk dibacakan. Menurut Leonhardt, ini memang salah satu kiat untuk menjadikan anak suka buku.

Biarkan anak-anak memilih buku yang menurut kita kacangan. Biarkan mereka memilih buku yang sama berulang-ulang. Anak-anak selalu senang mendengarkan buku favorit mereka dibacakan berulang-ulang (walaupun kita yang membacanya merasa bosan setengah mati!). Yang terpenting, menurut Leonhardt, anak-anak menyadari bahwa kita menghormati selera mereka dan mereka juga menikmatinya.

Kiat lainnya, bacalah dengan sikap santai. Ciptakanlah kegembiraan. Ucapkanlah dengan keliru kata-kata dalam buku tersebut supaya anak-anak dapat memperbaiki kekeliruan Anda. Berkisahlah dengan beragam suara dan tertawalah bersama-sama. Saran Leonhardt, jadikan membaca sebagai saat-saat menyenangkan dan penuh kekonyolan.

Jika perhatian anak-anak mulai mengendur, apa yang harus dilakukan? Leonhardt menyarankan: percepatlah bacaan Anda. Karanglah akhir cerita yang kontekstual dan Anda perlukan. Misalnya, “Dan sekarang sang beruang harus mandi—sama seperti anak Bunda ini...!”

Hal yang juga penting adalah kegiatan bermain yang melibatkan buku. Misalnya, mendorong anak-anak untuk “membacakan” dongeng sebelum tidur kepada boneka-boneka mereka, atau bermain tentang kegiatan di toko buku atau perpustakaan. Ini penting, menurut Leonhardt, agar buku selalu menjadi bagian dari keseharian anak-anak.



Membaca mandiri

Merujuk ke kiat dari Mary Leonhardt, orangtua sebaiknya memang menjadikan anaknya pembaca yang mandiri sejak kecil. Karena itu, sarannya: jangan terlalu sering membacakan cerita untuk anak-anak agar mereka tidak terlalu bergantung pada kita dalam mendapatkan kegembiraan membaca. Ini tentu saja harus diterapkan pada anak yang mulai bisa membaca sedikit-sedikit, bukan kepada anak yang belum bisa membaca.

Dalam pandangan Leonhardt, tujuan akhirnya adalah orangtua memiliki anak-anak yang keranjingan membaca, bukan hanya terpesona mendengarkan orangtuanya membacakan buku cerita. Maka, saat anak-anak sudah bisa membaca sedikit-sedikit, orangtua harus mengurangi waktu membacakan cerita untuk mereka. Dengan begitu, mereka tidak manja atau malas membaca sendiri.

Salah satu cara untuk menjadikan anak mandiri dalam membaca adalah dengan berpura-pura kelelahan atau mengantuk ketika membacakan sehingga tak sanggup menyelesaikan. Setelah itu, minta anak melihat sendiri buku cerita tersebut. Saat anak mulai bisa membaca, tindakan ini akan mendorong anak untuk mau tidak mau berusaha membaca sendiri, apalagi jika ceritanya menarik dan buku cerita itu adalah favoritnya!



Penuhi rumah dengan buku

Kiat penting lainnya untuk membiasakan anak suka buku adalah dengan membuat buku ada di sekeliling anak sejak kecil. Penuhi rumah dengan buku. Taruhlah buku cerita anak-anak di tempat yang mudah dijangkau anak, sehingga anak dapat mengambilnya kapan pun ia suka.

Memenuhi rumah dengan buku bisa dengan cara rajin membeli buku (bisa di toko buku, saat pameran, bahkan di toko loak). Sebaiknya, anak diajak saat membeli buku dan kegiatan ini sepatutnya jadi kebiasaan rutin bagi keluarga. Bagus sekali kalau anak-anak memilih sendiri bukunya, di samping beberapa yang dibelikan orangtua. Antusiasme memilih buku sendiri saat membeli di toko akan membuat anak makin terdorong untuk cepat-cepat membaca buku tersebut.

Terakhir, yang amat penting dan mendasar untuk membuat anak-anak suka membaca, adalah orangtua juga harus rajin membaca. Anak-anak adalah peniru yang baik. Dengan pengamatan secara visual yang dilakukannya, anak-anak akan meniru kebiasaan orangtuanya. Jadi, kalau mau membuat anak punya kebiasaan suka membaca, orangtua haruslah menunjukkan ia juga pembaca yang baik, baik itu buku atau media cetak lainnya.

Orangtua sebaiknya bahkan harus menonjol-nonjolkan kebiasaan membaca di hadapan anak-anaknya. Tak apa bersikap lebay sedikit. Misalnya, secara demonstratif membaca dengan tumpukan buku di hadapannya. Atau membaca koran atau majalah dengan bergaya, agak sedikit bersandar di sofa. Atau, orangtua memperbincangkan isi buku yang dibaca dengan antusias di hadapan anak.

Pendeknya, orangtua harus memperlihatkan kepada anak bahwa membaca itu mengasyikkan! Dengan demikian, kita dapat berharap anak-anak memfotokopi perilaku ini: mereka juga jadi suka membaca!